Jenny IT Creatif ™

Informasi dan Teknologi Penunjang Kesuksesan Masa Depan

Monday, 10 September 2012

TAUHID ILMU KALAM

A.    Pengertian Tauhid-Ilmu Tauhid
1.      Arti Tauhid
            Ditinjau dari segi ilmu bahasa (etimologi) kata tauhid bersal dari bahasa Arab ’aqada dengan arati meyakinkan bahwa Allah SWT adalah ”esa” tiada sekutu bagi-Nya. Dalam hal ini ada beberapa pendapat para ahli ilmu tauhid atau teologi sebagai berikut:
a.       Muhammad Abduh dalam bukunya: Risalah at-Tauhid berpendapat: asal makna tauhid adlah meyakinkan (mengi’tiqatkan) bahwa Allah adalah satu tidak syarikat bagi-Nya (Muhammad Abduh, 1969:33).
b.      A. R Sutan Masur berpendapat bahwa kata-kata tauhid merupakan bahasa Arab dalam bentuk bab tafi’I yang susunanya dari wahhada (menyatukan), yuwahhidu (akan tetap menyatukan) dan tauhidan (sungguh disatukan). Dengan demikian, tauhid ini harus berwujud berusaha menyatukan dengan arti yang tepat. Tauhid bukan menyatukan Tuhan dengan dari beberapa Tuhan, tetapi dimaksud ialah merebut hati, mempunyai i’tiqad bahwa Allah itu hanya satu. Keyakinan itu harus dii’tiqatkan dalam qalbu, dibuhul dalam hati, dipegang keras dalam perasaan, ruh dan pikiran kita (A.R. Sutan Mansur, 1978: 10).
c.       M. Thaib Thahir A. Mu’in menjelaskan: tauhid artinya mengetahui atau mengenal Allah Ta’ala, mengetahui dan meyakinkan Allah itu tunggal, tidak ada sekutu-Nya (M. Thaib Thahir A. Mu’in, t.th:19).
d.      A. Hanafi berpendapat arti tauhid ialah percaya tentang wujud Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, baik zat, sifat, maupun perbuatan-Nya; Yang mengutus utusan untuk memberi petunjuk kepada alam dan umat manusia kepada jalan kebaikan; yang meminta pertanggungjawaban seseorang di akhirat...(A. Hanafi,t.th: 12).

     

Tasawuf

Tasawuf
A.    Pengertian Tasawuf
1.      Secara Bahasa
Secara bahasa, pengertian tasawuf terdiri atas beberapa istilah berikut :
a.       Tasawuf berasal dari istilah yang dikonotasikan dengan ahlu suffah, yang berarti sekelompok orang pada masa rasulullah yang hidupnya diisi dengan banyak berdiam di serambi-serambi mesjid, dan mereka mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah.
b.      Tasawuf  berasal dari kata shaffa,  artinya bersih atau suci. Maksudnya adalah orang-orang yang menyucikan dirinya dihadapan tuhannya.
c.       Tasawuf  berasal dari kata shaff, artinya shaf atau barisan. Orang-orangnya dinamakan para sufi, menurut pendapat ini mereka berada pada barisan pertama di depan Allah karena besarnya keinginan shuffi dan kecendrungan hati mereka terhadap Allah.
d.      Tasawuf  berasal dari bahasa Yunani yakni saufi, istilah ini disamakan maknanya dengan kata hikmah yang berarti kebijaksanaan.
e.       Tasawuf  berasal dari kata shaufanah, yaitu sebangsa buah-buahan kecil yang berbulu-bulu, yang banyak sekali tumbuh di padang pasir di tanah Arab, dan pakaian kaum sufi itu berbulu-bulu seperti buah itu pula dalam kesederhanaannya.
f.       Tasawuf berasal dari kata shuf, yang berarti bulu domba atau wol.

Aspek-Aspek yang Mempengaruhi Akhlak

Aspek – aspek yang mempengaruhi akhlak

  1. Ta’biat  adat dan kebiasaan
Adat / kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan.Perbuatan yang telah menjadi adat kebiasaan, tidak cukup hanya di ulang-ulang saja, tetapi harus disertai kesukaan dan kecendrungan hati terhadapnya.
Segala perbuatan, baik atau buruk, akan menjadi adat kebiasaan karna dua faktor: “ kesukaan hati kepada sesuatu pekerjaan dan menerima kesukaan itu dengan melahirkan sesuatu perbuatan, dan dengan di ulang- ulang secukupnya”. Adapun berulangnya sesuatu perbuatan saja, (yakni mengerakkan anggota tubuh dengan perbuatan), tidak ada gunanya dalam pembentukan adat kebiasaan. Seperti seseorang yang sakit yang berulang-ulang menelan obat yang sangat pahit yang tidak di sukainya, mengharap lekas sembuh supaya tidak menelannya lagi, baginya penelanan obat itu tidak menjadi adat kebiasaan. Seperti  seorang murid yang malas pergi ke sekolah, dia pergi kesekolah hanya karna tekanan orang tua, sehingga apabila tidak ada tekanan orang tua tersebut ia tidak mau pergi ke sekolah. Akan tetapi kita melihat peminum minuman keras yang di ulang- ulangi meminum minuman keras tersebut.
Alasan dalam contoh ini adalah, bahwa orang yang sakit itu hatinya tidak suka minum obat, padahal ia ingin sehat kembali. Maka karna kesukaan hati dalam suatu perbuatan dan mengulanginya tidak nyata ada, sehingga tidak menjadi adat kebiasaan. Demikian juga seorang murid yang hatinya tidak suka pergi kesekolah, dimana ia hanya pergi karna tekanan orang tua, hal itu tidak dikatakan kebiasaan. Ada pun peminum minuman keras yang suka meminum minuman keras dan kesukaan ini diualng - ulanginya, maka hal inilah yang menjadi adat kebiasaan.
Mengulangi sesuatu hal, dengan kesukaan hati saja tidak cukup dikatakan suatu kebiasaan. Barang siapa yang ingin berulang kali ingin meminum minuman keras, akan tetapi tidak mengulangi maka hal itu tidak menjadi kebiasaan. Dengan demikian suatu hal yang akan menjadi suatu adat kebisaan karna keinginan hati dan dilakukannya, serta di ulang - ulanginya.